Sebelum cerita tentang kopi dan matcha dimulai, ada beberapa orang yang membuat cerita ini menjadi lebih ramai.
Mereka bukan hanya sekadar teman.
Ada yang selalu tahu lebih dulu.
Ada yang suka menggoda.
Ada yang selalu ikut campur.
Dan ada juga yang cukup peka untuk menyadari sesuatu yang bahkan pemilik perasaannya sendiri belum tentu mengerti.
Inilah mereka.
Tokoh utama.
Raga adalah tipe orang yang hampir selalu punya kesibukan.
Kuliah, organisasi, kegiatan kampus, teman-teman, dan berbagai hal lain yang membuat harinya jarang benar-benar sepi.
Ia pintar, aktif, mudah bergaul, dan punya cukup banyak teman.
Raga juga sudah memiliki pacar ketika cerita ini dimulai.
Di mata orang lain, hidupnya terlihat cukup lengkap.
Tapi ada satu hal yang mungkin tidak banyak orang tahu.
Raga ternyata cukup mudah dibuat kehilangan fokus oleh seseorang yang tidak pernah ia rencanakan untuk hadir dalam hidupnya.
Hana.
Raga menyukai teh hijau dan matcha.
Baginya, rasa pahit bukan sesuatu yang harus dihindari.
Mungkin karena itu juga ia tidak terlalu keberatan dengan perbedaan.
Masalahnya, ketika menyangkut Hana, Raga mulai sadar bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa ia selesaikan hanya dengan logika.
Termasuk perasaan sendiri.
CIRCLE RAGA
DIMAS
Sahabat dekat Raga.
Kalau ada satu orang yang paling tahu perubahan sikap Raga, mungkin Dimas adalah orangnya.
Dimas tahu kebiasaan Raga.
Tahu kapan Raga sedang baik-baik saja.
Tahu kapan Raga sedang malas.
Dan yang paling penting—
Dimas cukup cepat menyadari kalau ada sesuatu yang berubah ketika nama Hana mulai sering muncul dalam kehidupan Raga.
Sayangnya, kemampuan membaca situasi itu selalu dibarengi satu kebiasaan buruk:
suka meledek.
Semakin Raga menyangkal, semakin Dimas senang.
“Lu suka sama Hana?”
“Enggak.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Berarti gue boleh deketin?”
“Jangan.”
Dimas tersenyum.
“Nah.”
Raga diam.
Dimas menang.
ADIT
Si paling santai.
Adit tidak terlalu banyak berpikir seperti Dimas.
Kalau ada sesuatu yang lucu, ia ikut tertawa.
Kalau Dimas mulai menggoda Raga, Adit biasanya ikut menambahkan.
Bukan karena ingin membuat keadaan semakin rumit.
Memang karena menurutnya lucu.
“Udah, Ga. Ngaku aja.”
“Ngaku apa?”
“Ya lu tahu sendiri.”
“Gue nggak tahu.”
Adit mengangguk santai.
“Berarti makin parah.”
Adit sering menjadi orang yang membuat suasana di antara mereka tetap ringan.
Tidak terlalu serius.
Tidak terlalu banyak drama.
Kalau Dimas adalah provokator utama, Adit adalah orang yang dengan santai ikut menyiram bensin.
OPAL
Sumber kekacauan.
Opal adalah tipe teman yang tidak selalu mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi entah bagaimana selalu punya komentar.
Random.
Receh.
Kadang tidak nyambung.
Tapi justru itu yang membuat suasana tidak pernah terlalu serius ketika Opal ada.
Saat Raga sedang serius memikirkan sesuatu, Opal bisa datang dengan pertanyaan yang sama sekali tidak berhubungan.
“Ga.”
“Apa?”
“Kalau matcha dicampur kopi jadi apa?”
Raga menatapnya.
“Entahlah.”
“Berarti Kopimatcha.”
“Apaan sih?”
“Judul hidup lu.”
Tidak ada yang tahu apakah Opal benar-benar tidak peka atau sebenarnya terlalu peka.
Yang jelas, kehadirannya hampir selalu berhasil membuat satu circle tertawa.‘
Tokoh utama.
Hana adalah cewek yang mudah membuat orang merasa nyaman.
Ia baik, cheerful, mudah bergaul, dan hampir selalu punya cara untuk mencairkan suasana. Tidak heran kalau banyak orang senang berada di dekatnya.
Di lingkungan sekitarnya, Hana juga dikenal sebagai orang yang bisa diandalkan. Kalau ada yang butuh bantuan, ada pekerjaan yang harus diselesaikan, atau sekadar butuh teman untuk bercerita, Hana biasanya ada.
Tapi menjadi seseorang yang bisa diandalkan bukan berarti Hana selalu baik-baik saja.
Ia punya sisi moody yang kadang muncul tanpa aba-aba. Hari ini bisa sangat ceria dan banyak bicara, besok bisa tiba-tiba ingin menikmati waktunya sendiri.
Hana juga punya satu kebiasaan yang cukup sulit ia hilangkan:
tidak enakan.
Ia sering kesulitan mengatakan tidak, apalagi kalau merasa bisa membantu. Kadang ia terlalu memikirkan perasaan orang lain sampai lupa bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya ia sedang ingin apa.
Untuk urusan cinta, Hana sebenarnya tidak terlalu memikirkannya.
Ketika cerita ini dimulai, ia belum memiliki pacar. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada karier, masa depan, dan kehidupan yang sedang ia jalani.
Sampai kemudian Raga masuk ke dalam kehidupannya.
Awalnya hanya seseorang yang menarik perhatiannya.
Lalu menjadi teman.
Kemudian menjadi seseorang yang keberadaannya mulai ia tunggu.
Dan tanpa sadar, Raga menjadi seseorang yang membuat Hana harus berhadapan dengan perasaan yang sebelumnya tidak pernah ia rencanakan.
Hana adalah seorang pecinta kopi, terutama Latte tanpa gula.
Kopi selalu punya tempat di hampir setiap suasana hatinya—saat senang, lelah, sibuk, bingung, bahkan ketika mood-nya sedang tidak baik.
Dan mungkin, dari semua hal yang selama ini bisa Hana hadapi dengan mudah, ada satu hal yang ternyata jauh lebih sulit:
memahami perasaannya sendiri.
CIRCLE HANA
ICHA
Sahabat dekat dan tempat curhat Hana.
Icha adalah orang yang paling sering mendengar cerita Hana.
Termasuk cerita tentang Raga.
Dari awalnya hanya,
“Raga tadi begini…”
sampai akhirnya hampir setiap cerita punya nama yang sama di dalamnya.
Icha mungkin bukan orang yang selalu memberikan jawaban paling menyenangkan.
Tapi ia akan mengatakan apa yang menurutnya benar.
Ketika Hana mulai terlalu jauh berharap pada Raga, Icha menjadi orang yang mengingatkannya pada kenyataan.
Raga sudah punya pacar.
Dan belum tentu Raga merasakan hal yang sama.
Karena itu, Icha menyarankan Hana untuk menjaga jarak.
Bukan karena Raga orang jahat.
Justru karena Icha tahu Raga adalah orang baik.
Dan terkadang, orang baik tetap bisa menjadi seseorang yang salah untuk kita harapkan.
NADINE
Blak-blakan dan paling peka.
Kalau Icha lebih sering mendengarkan, Nadine lebih suka langsung mengatakan apa yang ia lihat.
Hana bisa menyangkal apa pun.
Tapi sulit menyangkal sesuatu di depan Nadine.
“Lu suka sama Raga, ya?”
“Nggak.”
“Terus kenapa kalau nama Raga disebut lu langsung lihat?”
“Kebetulan.”
“Terus kenapa lu hafal dia suka apa?”
“Karena sering ketemu.”
“Terus kenapa lu senyum?”
Hana diam.
Nadine menang.
Nadine adalah tipe teman yang bisa melihat perubahan kecil dalam diri Hana bahkan sebelum Hana menyadarinya sendiri.
Ia tahu kapan Hana sedang senang.
Tahu kapan Hana sedang kesal.
Dan tahu kapan sebenarnya Hana sedang berusaha berpura-pura tidak peduli.