Fakultas.co.id – Mencari investor bukan hanya persoalan memiliki ide bisnis yang menarik. Investor perlu melihat apakah sebuah usaha memiliki pasar yang cukup besar, model pendapatan yang masuk akal, struktur biaya yang terkendali, serta kemampuan untuk berkembang.
Karena itu, sebelum menawarkan bisnis kepada calon investor, pemilik usaha perlu menyiapkan gambaran yang jelas mengenai kondisi bisnis. Jasa bisnis plan dapat membantu menyusun informasi tersebut dalam sebuah rencana yang sistematis, sedangkan jasa pembuatan bisnis plan dapat digunakan untuk mengembangkan data operasional menjadi proyeksi bisnis dan keuangan yang lebih terstruktur.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa investor biasanya tidak hanya melihat omzet. Mereka ingin mengetahui bagaimana bisnis memperoleh pelanggan, berapa biaya untuk mendapatkan pelanggan, berapa nilai pelanggan tersebut, dan berapa modal yang dibutuhkan sampai bisnis mampu menghasilkan arus kas yang sehat.
Sebelum membahas kebutuhan pendanaan, ukuran pasar perlu dihitung terlebih dahulu.
Pendekatan TAM, SAM, dan SOM dapat digunakan untuk memberikan gambaran mengenai ruang pasar.
TAM menggambarkan keseluruhan potensi pasar.
SAM merupakan bagian pasar yang dapat dilayani berdasarkan segmen, wilayah, produk, dan kemampuan perusahaan.
SOM merupakan bagian pasar yang secara realistis dapat diperoleh.
Misalnya sebuah bisnis memiliki SAM sebesar Rp500 miliar. Jika perusahaan menargetkan market share 3%, maka potensi SOM secara sederhana adalah Rp15 miliar.
Namun, investor biasanya akan mempertanyakan bagaimana perusahaan dapat mencapai angka tersebut.
Apakah kapasitas produksi mencukupi? Apakah jumlah tenaga sales memadai? Berapa anggaran marketing yang diperlukan? Apakah terdapat kompetitor yang sudah menguasai sebagian besar pasar?
Dengan demikian, market size perlu dikaitkan dengan kemampuan eksekusi.
Salah satu hal yang menarik untuk dianalisis sebelum mencari investor adalah unit economics.
Unit economics melihat berapa nilai ekonomi yang dihasilkan dari satu pelanggan atau satu transaksi.
Misalnya sebuah bisnis menjual layanan berlangganan Rp500.000 per bulan.
Jika gross margin sebesar 60%, maka kontribusi kotor per pelanggan adalah sekitar Rp300.000 per bulan.
Namun, angka tersebut belum cukup.
Bisnis juga perlu mengetahui berapa biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh pelanggan tersebut.
Di sinilah Customer Acquisition Cost (CAC) menjadi penting.
CAC menunjukkan biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk mendapatkan satu pelanggan.
Contohnya perusahaan mengeluarkan:
Total biaya akuisisi mencapai Rp60 juta.
Jika perusahaan memperoleh 120 pelanggan baru, maka:
CAC = Rp60 juta ÷ 120 = Rp500.000
Angka tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai ekonomi pelanggan.
Jika biaya memperoleh pelanggan Rp500.000 tetapi margin yang diperoleh sepanjang hubungan dengan pelanggan hanya Rp300.000, model bisnis tersebut perlu diperbaiki.
Sebaliknya, jika pelanggan menghasilkan margin Rp3 juta sepanjang masa berlangganan, biaya akuisisi Rp500.000 dapat menjadi jauh lebih masuk akal.
Customer Lifetime Value (LTV) memperkirakan nilai ekonomi yang dapat diperoleh perusahaan dari seorang pelanggan selama hubungan bisnis.
Misalnya:
Maka gross profit yang dihasilkan selama periode tersebut secara sederhana:
Rp1 juta × 4 × 50% = Rp2 juta
Jika CAC mencapai Rp1,5 juta, ruang keuntungan menjadi relatif kecil.
Sebaliknya, jika CAC hanya Rp500 ribu, economics bisnis terlihat lebih menarik.
Karena itu, hubungan antara LTV dan CAC dapat memberikan gambaran apakah strategi akuisisi pelanggan memiliki potensi untuk dikembangkan.
Pertumbuhan revenue memang penting, tetapi investor perlu melihat kualitas pertumbuhan tersebut.
Misalnya:
Tahun 1: Rp1 miliar
Tahun 2: Rp2 miliar
Tahun 3: Rp4 miliar
Secara sekilas pertumbuhan terlihat sangat baik.
Namun jika perusahaan harus mengeluarkan biaya Rp3,5 miliar untuk menghasilkan revenue Rp4 miliar, pertumbuhan tersebut belum tentu menghasilkan ekonomi bisnis yang sehat.
Karena itu, analisis perlu melihat beberapa indikator secara bersamaan:
Dengan melihat indikator tersebut, investor dapat memahami apakah pertumbuhan benar-benar menciptakan nilai atau hanya membeli revenue dengan biaya yang sangat besar.
Untuk bisnis yang masih berada pada fase pertumbuhan, burn rate menjadi indikator penting.
Burn rate menunjukkan seberapa cepat perusahaan menggunakan kas untuk membiayai operasional ketika pengeluaran masih lebih besar daripada pemasukan.
Misalnya perusahaan memiliki kas Rp2 miliar dan rata-rata menggunakan Rp200 juta per bulan untuk menutup kebutuhan operasional.
Secara sederhana:
Runway = Rp2 miliar ÷ Rp200 juta = 10 bulan
Artinya, perusahaan memiliki sekitar 10 bulan runway jika tidak ada tambahan pendanaan dan asumsi pengeluaran tetap sama.
Informasi ini penting ketika perusahaan sedang mencari investor karena menunjukkan seberapa mendesak kebutuhan pendanaan.
Investor biasanya tidak cukup puas dengan pernyataan:
“Kami membutuhkan investasi Rp5 miliar untuk mengembangkan bisnis.”
Pertanyaan berikutnya adalah: Rp5 miliar tersebut akan digunakan untuk apa?
Misalnya:
Rincian tersebut memberikan gambaran mengenai penggunaan modal.
Lebih baik lagi jika setiap kebutuhan dana dikaitkan dengan target yang ingin dicapai.
Misalnya Rp1 miliar untuk marketing ditargetkan menghasilkan tambahan 2.000 pelanggan dengan CAC maksimum Rp500.000.
Dengan demikian, penggunaan modal menjadi lebih terukur.
Investor juga perlu mengetahui kapan bisnis dapat mencapai titik impas.
Misalnya:
Contribution margin:
Rp1 juta – Rp600 ribu = Rp400 ribu
Maka:
BEP = Rp1 miliar ÷ Rp400 ribu = 2.500 unit
Jika target penjualan hanya 2.700 unit, margin keamanan bisnis masih relatif tipis.
Sebaliknya, jika kapasitas pasar memungkinkan penjualan 5.000 unit, posisi bisnis menjadi lebih menarik.
Analisis seperti ini juga membantu memahami operating leverage, yaitu seberapa sensitif laba operasional terhadap perubahan revenue ketika perusahaan memiliki fixed cost yang besar.
Bisnis yang menjual produk secara kredit perlu memperhatikan Cash Conversion Cycle (CCC).
CCC berkaitan dengan waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mengubah pengeluaran kas menjadi penerimaan kas dari pelanggan.
Secara sederhana, CCC dapat dipengaruhi oleh:
Days Inventory Outstanding + Days Sales Outstanding – Days Payable Outstanding
Misalnya perusahaan harus membayar supplier dalam 30 hari, tetapi pelanggan baru membayar dalam 60 hari. Jika persediaan juga membutuhkan waktu 20 hari untuk terjual, perusahaan perlu memiliki modal kerja yang cukup untuk menutup gap tersebut.
Ini menjadi semakin penting ketika bisnis tumbuh cepat.
Revenue meningkat, tetapi kebutuhan modal kerja juga bisa meningkat secara signifikan.
Sebelum investor mengambil keputusan, proyeksi keuangan sebaiknya tidak hanya dibuat dalam satu skenario.
Setidaknya dapat digunakan:
Base Case
Menggunakan asumsi yang paling realistis.
Upside Case
Mengasumsikan pertumbuhan lebih tinggi dan kondisi operasional lebih baik.
Downside Case
Mengasumsikan penjualan lebih rendah atau biaya lebih tinggi.
Contohnya, jika penjualan turun 20%, perusahaan perlu mengetahui:
Analisis tersebut memberikan gambaran mengenai ketahanan bisnis.
Untuk bisnis atau proyek yang membutuhkan investasi besar, NPV dan IRR dapat digunakan untuk menilai potensi pengembalian investasi.
NPV memperhitungkan nilai waktu uang dengan membawa arus kas masa depan ke nilai saat ini menggunakan tingkat diskonto tertentu.
Sementara IRR menunjukkan tingkat pengembalian internal berdasarkan arus kas proyek.
Misalnya sebuah proyek membutuhkan investasi awal Rp8 miliar dan menghasilkan arus kas selama lima tahun. Investor dapat membandingkan NPV dan IRR proyek tersebut dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan.
Analisis ini menjadi semakin penting jika bisnis membutuhkan modal besar sebelum menghasilkan arus kas positif.
Angka proyeksi tidak pernah sepenuhnya pasti.
Karena itu, sensitivity analysis dapat digunakan untuk menguji variabel yang paling memengaruhi hasil investasi.
Misalnya dilakukan perubahan:
Kemudian diamati dampaknya terhadap EBITDA, cash flow, NPV, dan kebutuhan modal tambahan.
Jika sedikit perubahan pada volume penjualan langsung membuat NPV menjadi negatif, berarti proyek memiliki sensitivitas tinggi terhadap demand.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan strategi mitigasi sebelum investasi dilakukan.
Pada akhirnya, jasa bisnis plan bukan hanya berkaitan dengan membuat dokumen yang terlihat profesional.
Bisnis plan seharusnya membantu menjawab pertanyaan yang akan muncul dari calon investor:
Siapa pelanggan Anda?
Seberapa besar pasarnya?
Bagaimana pelanggan diperoleh?
Berapa CAC-nya?
Berapa nilai pelanggan sepanjang hubungan bisnis?
Berapa margin yang diperoleh?
Berapa modal yang dibutuhkan?
Kapan bisnis mencapai break even?
Apa risiko terbesar?
Bagaimana bisnis bertahan jika target penjualan tidak tercapai?
Dokumen yang mampu menjawab pertanyaan tersebut akan jauh lebih berguna daripada rencana bisnis yang hanya berisi deskripsi perusahaan dan target omzet.
Dalam penyusunan dokumen untuk investor, asumsi harus disampaikan secara jujur.
Jika market share 5% belum memiliki dasar yang kuat, angka tersebut tidak seharusnya ditampilkan sebagai sesuatu yang pasti.
Demikian pula, proyeksi revenue sebaiknya memiliki hubungan yang jelas dengan jumlah pelanggan, conversion rate, harga, kapasitas operasional, dan strategi akuisisi.
Transparansi terhadap risiko justru dapat meningkatkan kredibilitas bisnis plan.
Dalam konteks etika bisnis Islam, prinsip amanah dan kejujuran juga relevan. Pihak yang memberikan modal berhak memperoleh informasi yang tidak menyesatkan mengenai peluang maupun risiko sebuah usaha.
Kesiapan bisnis sebelum mencari investor tidak cukup dinilai dari besarnya omzet atau menariknya sebuah produk.
Investor perlu melihat bagaimana market size, unit economics, CAC, LTV, margin, burn rate, runway, cash flow, BEP, kebutuhan modal, dan proyeksi pertumbuhan saling berhubungan.
Untuk proyek investasi yang lebih besar, analisis dapat diperluas dengan NPV, IRR, WACC, dan sensitivity analysis.
Karena itu, jasa pembuatan bisnis plan yang baik seharusnya tidak sekadar menghasilkan dokumen presentasi. Rencana tersebut perlu dibangun dari asumsi yang dapat diuji dan mampu menunjukkan hubungan antara strategi bisnis dengan hasil keuangan.
Dengan pendekatan tersebut, bisnis plan dapat menjadi alat yang membantu pemilik usaha memahami kesiapan bisnis sekaligus memberikan dasar yang lebih kuat bagi investor dalam menilai sebuah peluang.