BAB 1 KOPIMATCHA – BERBEDA

BAB 1 — BERBEDA

Kalau ada satu hal yang paling mudah ditemukan dari Raga Arvin Mahesa, atau yang biasa dipanggil Raga, mungkin itu adalah kesibukannya.

Entah bagaimana, hampir setiap kali seseorang mencarinya, Raga selalu punya urusan.

Rapat organisasi.

Kegiatan kampus.

Diskusi.

Acara.

Atau sekadar nongkrong bersama teman-temannya yang jumlahnya seperti tidak pernah berkurang.

Raga memang tipe orang yang sulit diam terlalu lama.

Ia senang berada di tengah banyak orang. Senang berbicara, bercanda, bertukar pendapat, dan terlibat dalam berbagai hal. Namanya cukup dikenal di kampus, bukan hanya karena ia aktif di organisasi, tetapi juga karena Raga memang mudah bergaul.

Ditambah lagi, dia pintar.

Kombinasi antara pintar, aktif, punya banyak teman, dan cukup pandai membawa diri membuat Raga menjadi salah satu orang yang mudah diperhatikan.

Bukan berarti Raga selalu berusaha menjadi pusat perhatian.

Ia hanya… terbiasa berada di sana.

Saat teman-temannya berkumpul, namanya hampir selalu ada.

Saat ada kegiatan organisasi, ia sering ikut terlibat.

Dan ketika ada seseorang yang membutuhkan bantuan, Raga juga termasuk orang yang bisa diandalkan.

Hidupnya cukup ramai.

Termasuk soal percintaan.

Raga sudah punya pacar.

Jadi, kalau ada yang bertanya apakah Raga sedang mencari seseorang, jawabannya jelas bukan.

Ia sudah memiliki seseorang.

Dan hidupnya saat itu baik-baik saja.

Setidaknya, menurut Raga.

 

Sementara itu, ada Hana Keira Anindya, atau yang lebih sering dipanggil Hana.

Kalau Raga dikenal karena kesibukannya di organisasi dan lingkaran pertemanannya yang luas, Hana dikenal dengan caranya sendiri.

Hana mudah bergaul.

Ia baik, cheerful, dan punya cara sederhana untuk membuat orang di sekitarnya merasa nyaman. Tidak heran kalau teman-temannya cukup banyak dan namanya sering dicari ketika ada sesuatu yang harus dibantu.

“Han, bisa bantu?”

“Bisa.”

“Han, ini nanti tolong dicek, ya.”

“Oke.”

“Han, ikut, dong.”

“Yaudah.”

Entah kenapa, Hana cukup sering berakhir menjadi orang yang diandalkan.

Bukan karena ia selalu punya waktu.

Justru kadang ia sendiri sedang sibuk.

Hanya saja, Hana punya satu kebiasaan yang sulit dihilangkan:

tidak enakan.

Kalau masih bisa membantu, ia akan membantu.

Kalau masih bisa dikerjakan, ia akan mengerjakan.

Bahkan ketika sebenarnya ia ingin bilang tidak.

Tapi di balik sifatnya yang mudah diajak bergaul, Hana tetap punya dunianya sendiri.

Ia bisa sangat cheerful hari ini, lalu besok tiba-tiba lebih banyak diam karena mood-nya sedang tidak baik.

Kadang bisa ikut tertawa paling keras.

Kadang hanya ingin duduk sendiri sambil menikmati kopinya.

Tidak ada pola yang benar-benar bisa ditebak.

Hana sendiri mungkin juga tidak terlalu memikirkannya.

Begitulah dirinya.

Untuk urusan cinta, Hana tidak sedang mencari siapa-siapa.

Ketika cerita ini dimulai, ia belum punya pacar.

Perhatiannya lebih banyak tertuju pada karier dan masa depan. Masih banyak hal yang ingin ia capai, dan menurutnya, hidup sudah cukup sibuk tanpa harus memikirkan hubungan yang belum tentu ke mana arahnya.

Setidaknya, itu yang ia pikirkan sebelum mengenal Raga lebih jauh.

Karena sebenarnya, Raga dan Hana tidak terlalu berbeda.

Keduanya sama-sama mudah bergaul.

Sama-sama bisa diandalkan.

Sama-sama punya kesibukan.

Sama-sama punya banyak orang di sekitar mereka.

Yang berbeda adalah cara mereka menjalani semuanya.

Raga lebih menikmati kesibukan yang datang dari luar dirinya.

Hana lebih tahu kapan harus berhenti dan kembali ke dunianya sendiri.

Raga bisa menghabiskan waktu berjam-jam membahas sesuatu.

Hana kadang cukup dengan satu kalimat.

Raga lebih spontan.

Hana lebih mengikuti perasaannya.

Dan tentu saja, ada satu perbedaan yang sejak awal terasa cukup jelas.

Soal minuman.

Hana dengan kopinya.

Raga dengan matchanya.

Hana percaya kopi selalu punya tempat untuk hampir setiap suasana hati.

Raga merasa matcha adalah pilihan yang jauh lebih masuk akal.

Mereka bisa berdebat soal itu.

Bisa saling meledek.

Bisa sama-sama merasa pilihan sendiri paling benar.

Lucunya, mereka tidak pernah tahu bahwa perbedaan kecil soal kopi dan matcha itu hanya permulaan.

Karena setelahnya, akan ada banyak hal lain yang membuat mereka bertanya-tanya:

sebenarnya, seberapa berbeda mereka?

Dan kalau memang berbeda…

kenapa mereka justru semakin sering menemukan alasan untuk saling mendekat?

Kalau suatu hari mereka sampai berdebat tentang hal itu, kemungkinan besar tidak akan ada yang mau mengalah.

Untungnya, saat itu mereka belum cukup dekat untuk berdebat.

Mereka bahkan belum benar-benar saling mengenal.

Kalaupun pernah berada di tempat yang sama, mereka hanyalah dua orang yang kebetulan berada dalam satu lingkungan.

Tidak lebih.

Tidak ada alasan bagi Hana untuk memperhatikan Raga.

Dan tidak ada alasan bagi Raga untuk memperhatikan Hana.

Lagipula, kehidupan mereka sudah berjalan dengan arah masing-masing.

Raga sibuk dengan organisasi, teman-temannya, kuliah, dan hubungan yang sedang ia jalani.

Hana sibuk dengan dirinya sendiri, rencana masa depan, dan hal-hal yang ingin ia capai.

Mereka tidak memiliki banyak kesamaan.

Kalau dipikir-pikir, mungkin justru terlalu banyak perbedaan.

Dan kalau ada seseorang yang saat itu mengatakan bahwa suatu hari nanti Raga dan Hana akan menjadi bagian penting dalam kehidupan satu sama lain, mungkin mereka berdua akan tertawa.

Hana mungkin akan menjawab,

“Nggak mungkin.”

Sementara Raga mungkin hanya akan mengangkat bahu dan berkata,

“Emang kenapa?”

Karena pada saat itu, memang tidak ada apa-apa.

Belum ada.

Raga masih dengan dunianya.

Hana masih dengan dunianya.

Dua orang dengan kebiasaan berbeda.

Dua orang dengan prinsip berbeda.

Dua orang dengan pilihan yang berbeda.

Bahkan soal minuman saja mereka tidak mungkin sepakat.

Kopi dan matcha.

Sama-sama punya rasa.

Sama-sama punya penggemar.

Tapi jelas bukan rasa yang sama.

Dan mungkin, justru karena itulah cerita mereka dimulai.

gemar berbagi info, fakta dan motivasi.

Artikel lainnya
BAB 7 KOPIMATCHA – APA AKHIRNYA?

BAB 7 KOPIMATCHA – APA AKHIRNYA?

BAB 6 KOPIMATCHA – MANIS

BAB 6 KOPIMATCHA – MANIS