Expo kampus membuat banyak orang yang biasanya hanya saling tahu akhirnya harus bekerja bersama.
Termasuk Raga dan Hana.
Mereka masuk dalam kepanitiaan yang sama. Bukan satu divisi yang setiap hari harus bersama, tetapi cukup sering berpapasan dan berdiskusi soal persiapan acara.
Sampai suatu hari, mereka mendapat tugas membuat poster untuk expo.
Raga yang mengurus desainnya.
Hana ikut membantu memikirkan konsep dan beberapa detail yang ada di dalam poster.
Mereka duduk berhadapan dengan sebuah laptop di atas meja.
Raga membuka desain yang sudah dibuatnya.
“Menurut kamu gimana?”
Hana melihat layar beberapa saat.
“Bagus.”
Raga menunggu.
“Cuma?”
Hana mengangguk.
“Cuma apa?”
“Kayaknya karakternya belum punya nama.”
Raga melihat gambar di layar.
“Memang harus dikasih nama?”
“Harus.”
“Kenapa?”
“Biar nggak disebut ‘itu karakter yang di poster’ terus.”
Raga tertawa kecil.
“Terus namanya apa?”
“Nggak tahu. Kamu yang gambar.”
“Lah, yang kasih nama kamu.”
Hana menatap Raga.
“Kenapa aku?”
“Karena kamu yang bilang harus dikasih nama.”
Hana diam sebentar, lalu kembali melihat layar.
“Ya sudah.”
Ia mulai memikirkan beberapa nama.
Sementara Raga kembali memperbaiki gambar yang ada di laptop.
Sesekali Hana memberi masukan.
“Yang ini jangan terlalu besar.”
“Kenapa?”
“Nanti nutup tulisan.”
Raga menggeser gambarnya.
“Begini?”
“Nah.”
Beberapa menit kemudian, Hana akhirnya menemukan nama yang menurutnya cocok untuk karakter itu.
Ia menyebutkannya kepada Raga.
Raga berhenti menggerakkan mouse.
“Hmm.”
“Kenapa?”
“Lumayan.”
Hana langsung menoleh.
“Lumayan?”
Raga tersenyum.
“Bagus, maksud gue.”
“Beda, tahu.”
“Ya sudah, bagus.”
Hana kembali menghadap laptop.
“Gitu dong.”
Raga melanjutkan desainnya.
Tidak ada percakapan besar setelah itu.
Mereka hanya melanjutkan pekerjaan.
Raga menggambar.
Hana memikirkan nama dan beberapa detail lainnya.
Kadang mereka bertanya pendapat satu sama lain.
Kadang berbeda pendapat.
Kadang salah satu mengubah sesuatu yang sebelumnya sudah dibuat.
Hal-hal kecil seperti itu.
Tapi justru dari pekerjaan sederhana itu, mereka mulai lebih sering berbicara.
Hana jadi tahu kalau Raga ternyata cukup serius kalau sedang mengerjakan sesuatu yang ia suka.
Raga juga mulai tahu kalau Hana tidak sekadar pendiam.
Kalau sudah punya pendapat, Hana bisa cukup keras mempertahankannya.
Dan ternyata itu sedikit menghibur.
Terutama ketika pendapat mereka kembali bertabrakan.
“Gue tetap lebih suka yang tadi.”
“Yang tadi terlalu ramai.”
“Ini expo, bukan undangan nikah.”
Hana menahan senyum.
“Ya terus?”
“Ya jangan terlalu polos.”
“Yang penting jelas.”
Raga menggeleng sambil tersenyum.
“Lu susah juga, ya.”
“Kenapa?”
“Beda pendapat terus.”
Hana mengangkat bahu.
“Kan bukan berarti harus selalu setuju.”
Raga tidak menjawab.
Ia hanya kembali melihat layar.
Mungkin Hana benar.
Mereka memang tidak harus selalu setuju.
Toh, dari awal mereka memang tidak terlalu mirip.
Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, perbedaan mereka tidak terasa mengganggu.
Malah membuat pekerjaan yang awalnya biasa saja menjadi sedikit lebih menyenangkan.
Poster itu akhirnya selesai.
Gambar buatan Raga sudah memiliki nama pilihan Hana.
Dan tanpa mereka sadari, ada sesuatu yang ikut berubah setelahnya.
Bukan sesuatu yang besar.
Hanya rasa nyaman untuk berbicara.
Rasa penasaran yang sedikit lebih besar daripada sebelumnya.
Dan kehadiran seseorang yang mulai terasa lebih mudah diperhatikan.
Belum ada yang bisa disebut perasaan.
Belum.
Hanya sedikit.
Seperti rasa yang baru muncul di ujung lidah.
Sedikit rasa.