BAB 4 KOPIMATCHA – SALAH PAHAM

BAB 4 — SALAH PAHAM

Setelah expo selesai, hubungan Raga dan Hana tidak tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang istimewa.

Mereka masih seperti biasa.

Masih sesekali berbicara.                                                                                                                                                        

Masih bisa bercanda.

Kadang membahas hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kepanitiaan.

Hanya saja, sekarang Hana mulai lebih sering memperhatikan Raga.

Dan masalahnya, semakin sering memperhatikan seseorang, semakin banyak hal yang akhirnya ikut terlihat.

Termasuk media sosialnya.

Raga cukup aktif.

Kadang ada foto kegiatan organisasi.

Kadang ada aktivitas kampus.

Kadang ada teman-temannya.

Dan sesekali, ada pacarnya.

Hana sebenarnya tahu dari awal kalau Raga memang sudah punya pacar.

Bukan sesuatu yang baru.

Tapi mengetahui sesuatu dan melihatnya berulang kali ternyata terasa berbeda.

Apalagi beberapa story Raga terkadang diunggah atau dibuat oleh pacarnya.

Ada foto mereka.

Ada aktivitas bersama.

Ada hal-hal kecil yang menunjukkan kalau kehidupan Raga memang sudah memiliki seseorang di dalamnya.

Awalnya Hana hanya melihat.

Lalu melewati.

Besoknya melihat lagi.

Lalu melewati lagi.

Sampai suatu hari, entah kenapa, Hana mulai merasa terganggu.

Bukan marah.

Bukan juga kecewa.

Setidaknya itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Hanya…

sedikit tidak nyaman.

Hana mulai bertanya-tanya sendiri.

“Sebenarnya gue berharap apa?”

Pertanyaan itu justru membuatnya kesal.

Raga tidak pernah menjanjikan apa pun.

Tidak pernah mengatakan sesuatu yang membuat Hana boleh berharap.

Mereka bahkan belum benar-benar dekat.

Jadi kalau Raga menghabiskan waktu dengan pacarnya, memang apa masalahnya?

Tidak ada.

Seharusnya tidak ada.

Tapi perasaan memang tidak selalu mau mengikuti logika.

Hana mulai merasa seperti sedang berdiri di tempat yang salah.

Seolah-olah ia sudah terlalu jauh memperhatikan seseorang yang sebenarnya tidak pernah melihat ke arahnya.

Dan itu terasa seperti…

bertepuk sebelah tangan.

Sejak saat itu, Hana mulai berubah sedikit.

Tidak drastis.

Hanya lebih mudah kesal.

Kalau Raga bercerita tentang sesuatu bersama pacarnya, Hana kadang menjawab singkat.

“Oh.”

Atau,

“Iya.”

Atau bahkan tidak menjawab sama sekali.

Raga tidak terlalu memperhatikan perubahan itu.

Buat Raga, Hana mungkin hanya sedang mood-nya kurang bagus.

Ia sudah tahu Hana memang kadang seperti itu.

Suatu ketika, Hana bahkan sempat menyindir.

“Enak ya jadi orang yang selalu punya waktu buat pacar.”

Raga yang saat itu tidak merasa sedang membicarakan dirinya hanya menjawab santai,

“Ya tergantung orangnya.”

Hana menatapnya.

“Hmm.”

Raga kembali sibuk dengan kegiatannya.

Tidak ada reaksi.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada tanda bahwa ia menangkap maksud perkataan Hana.

Dan justru itu yang membuat Hana semakin kesal.

Beneran nggak peka.

Hana sebenarnya berharap Raga sedikit mengerti.

Mungkin bertanya.

Mungkin menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda.

Tapi Raga tidak melakukan apa-apa.

Karena bagi Raga, tidak ada yang perlu dicurigai.

Hana tidak pernah mengatakan apa pun.

Dan Raga tidak pernah tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di kepala Hana.

Akhirnya Hana mulai menyimpan semuanya sendiri.

Ia tetap berbicara dengan Raga.

Tetap bisa tertawa ketika ada sesuatu yang lucu.

Tetap mengerjakan urusannya.

Tapi ada bagian dari dirinya yang mulai menarik diri.

Semakin sering melihat kehidupan Raga bersama pacarnya, semakin ia merasa bahwa mungkin selama ini ia hanya salah mengartikan semuanya.

Mungkin perhatian kecil Raga memang hanya perhatian biasa.

Mungkin percakapan mereka saat mengerjakan poster memang hanya sebatas pekerjaan.

Mungkin Hana saja yang terlalu banyak membaca sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada.

Dan semakin ia memikirkan itu, semakin ia merasa bodoh.

Karena pada akhirnya, Raga tidak pernah meminta Hana untuk menunggu.

Tidak pernah memberi harapan.

Tidak pernah mengatakan bahwa ia akan memilih Hana.

Jadi Hana tidak punya hak untuk kecewa.

Tapi tetap saja…

ia kecewa.

Bukan kepada Raga.

Mungkin kepada dirinya sendiri.

Karena tanpa sadar, ia sudah berharap pada seseorang yang sejak awal memang bukan miliknya.

Sementara Raga?

Ia masih menjalani harinya seperti biasa.

Masih sibuk dengan organisasi.

Masih bersama teman-temannya.

Masih dengan pacarnya.

Dan masih tidak tahu bahwa di sisi lain, ada seseorang yang perlahan sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk berhenti berharap.

Dua orang itu berada di tempat yang sama.

Masih bisa berbicara.

Masih saling mengenal.

Tapi mulai melihat keadaan dari sisi yang berbeda.

Hana merasa sudah terlalu jauh.

Raga bahkan belum sadar bahwa mereka sedang berjalan menjauh.

Dan mungkin, itulah masalahnya.

Kadang bukan karena seseorang sengaja menyakiti kita.

Kadang hanya karena dia tidak pernah tahu bahwa kita sedang terluka.

gemar berbagi info, fakta dan motivasi.

Artikel lainnya
BAB 7 KOPIMATCHA – APA AKHIRNYA?

BAB 7 KOPIMATCHA – APA AKHIRNYA?

BAB 6 KOPIMATCHA – MANIS

BAB 6 KOPIMATCHA – MANIS